Untuk mencapai tujuan pembangunan sebagaimana yang telah direncanakan, perlu diketahui faktor-faktor kunci keberhasilan dan strategi pelaksanaan. Untuk identifikasi faktor kunci keberhasilan dan perumusan strategi ini digunakan análisis SWOT. Analisis SWOT yang terdiri dari analisis internal dan eksternal, digunakan untuk menentukan dan menganalisa strategi dimaksud, karena faktor-faktor internal dan eksternal di dalam pembangunan memiliki tingkat kohesi dan kombinasi yang tinggi untuk saling mempengaruhi.

Analisis lingkungan internal bertujuan untuk mengidentifikasi dan menjelaskan berbagai faktor yang menjadi kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness), kajian internal pada hakekatnya merupakan analisis dan evaluasi atas kondisi, kinerja dan permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan pembangunan. Sedangkan analisis lingkungan eksternal bertujuan untuk mengidentifikasi dan menjelaskan berbagai faktor yang menjadi kesempatan (Opportunity) dan tantangan (Threat). Berikut ini matrik identifikasi faktor-faktor eksternal dan internal yang digunakan dalam analisis SWOT dalam AMPL-BM Kabupaten Bangka.


Tabel 3.3.

Identifikasi Faktor Strategis Eksternal AMPL Kabupaten Bangka

Faktor Strategis Eksternal

Deskripsi

Respon Pemda

Kesempatan

1. MDG’s

2. Otonomi Daerah

3. Dukungan NGO Lokal (perguruan tinggi, LSM, ormas)

4. Peraturan UU LH dan Sumber Daya Air

1. Kesempatan melaksanakan kebijakan AMPL

2. Kemudahan program AMPL

3. Dukungan banyak pihak

4. Perlindungan kawasan SDA dan LH

1. Renstra AMPL

2. Dukungan sarana dan prasarana AMPL

3. Fasilitasi NGO lokal

4. Penertiban dan kelestarian lingkungan hidup dan SDA

Ancaman

1. Menurunnya kuantitas, kualitas dan kontinuitas air baku air minum masyarakat

2. Rendahnya kesadaran masyarakat untuk ber Pola Hidup Bersih dan Sehat

3. TI (tambang rakyat) dan asosiasi

1. akses terhadap air bersih berkurang

2. a. KLB Malaria, diare dan penyakit berbasis AMPL lainnya

b. Mempersulit program

AMPL

3. Mempercepat proses kerusakan lingkungan dan SDA

1. Reklamasi, reboisasi dan rehabilitasi

2. a. JKSS, abatisasi, PSN

b. Sosialisasi /memperkuat

kelembagaan

3. Penertiban tambang

Tabel diatas memperlihatkan bahwa faktor strategis eksternal dalam aspek kesempatan (opportunity), terdapat setidaknya empat opportunity utama yang dapat digunakan untuk mencapai visi renstra AMPL, yaitu; (i) ratifikasi MDG’s yang menjadi referensi standar bagi seluruh negara; (ii) otonomi daerah dan desentralisasi pemerintahan yang memungkinkan pemerintah daerah membuat perencanaan dan melaksanakan pembangunan tanpa terlalu banyak intervensi dari pemerintah pusat; (iii) dukungan dan komitmen dari berbagai NGO lokal, terutama perguruan tinggi, LSM yang bergerak di wilayah AMPL dan organisasi massa yang peduli AMPL; dan (iv) adanya peraturan perundang-undangan yang memberikan payung hukum bagi pelanggaran terhadap lingkungan hidup, pertambangan, sumberdaya air dan peraturan lain yang terkait.

Dari aspek ancaman (threats), terdapat setidaknya empat hambatan utama yang dapat memperlambat pencapaian sasaran Renstra, yaitu; (i) menurunnya kuantitas, kualitas dan kontinuitas air baku air minum bagi masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat sangat merasakan terjadinya penurunan kuantitas, kualitas dan kontinuitas air bersih. Berbagai permasalahan diperkirakan menjadi penyebabnya. Penggundulan hutan akibat aktivitas illegal logging, makin meluasnya lahan perkebunan sawit yang sangat rakus dalam mengkonsumsi air tanah, maupun berbagai pencemaran air, merupakan diantara penyebabnya.; (ii) rendahnya kesadaran masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat, seringkali menjadikannya sebagai faktor pencetus terjadinya wabah diare, malaria dan berbagai penyakit berbasis lingkungan lainnya; (iii) marak dan tidak terkendalinya aktivitas tambang timah inkonvensional, menjadikan banyak kawasan-kawasan lindung dan Daerah Aliran Sungai yang beralih fungsi menjadi kawasan-kawasan pertambangan. Persoalannya menjadi lebih kompleks ketika asosiasi yang menaungi para penambang timah rakyat, justru banyak mengambil kebijakan yang tidak pro kelestarian llingkungan hidup dan keberlanjutan Sumber Daya Air (SDA).

Disamping faktor strategis eksternal, faktor keberhasilan lain yang sama pentingnya adalah faktor strategis internal. Selengkapnya identifikasi faktor strategis internal tersebut tersaji pada tabel berikut.

Tabel 3.4.

Identifikasi Faktor Strategis Internal AMPL Kabupaten Bangka

Faktor Strategis Internal

Deskripsi

Respon PEMDA

Kekuatan

1. Komitmen pimpinan daerah

2. Dukungan PEMDA

3. SDM tersedia

4. Pokja AMPL

1. Konsistensi kebijakan

2. Aksesibilitas program

3. Ketrampilan

4. Fasilitasi pembangunan

1. RPJMD Pro AMPL

2. Kuatnya dukungan

3. Peningkatan kualitas

4. Fasilitasi

Kelemahan

1. SDM aparatur rendah

2. Anggaran tidak proporsional

3. Belum memadainya perangkat peraturan yang mendukung pembangunan dan pengelolaan AMPL

4. Rendahnya jumlah dan kinerja kelembagaan pengelola AMPL

1. Inkoordinasi

2. Fungsi fasilitasi menjadi tidak optimal

3. Kebijakan pembangunan tidak terfokus pada AMPL

4. Aksesibilitas dan akselerasi pencapaian sasaran rendah

1. Intensifikasi Rakor

2. Peningkatan anggaran AMPL secara bertahap

3. Penyusunan perangkat peraturan

4. penambahan dan perbaikan kinerja

Tabel diatas memperlihatkan bahwa dari sisi kekuatan (strength) dalam aspek internal, setidaknya terdapat empat faktor utama yang sangat berkorelasi terhadap pencapaian visi AMPL. Keempat faktor tersebut adalah: (i) komitmen pimpinan daerah; dalam visi dan misi Bupati yang kemudian dijabarkan dalam RPJMD, sektor AMPL menjadi salah satu sektor yang menjadi titik tekan; (ii) dukungan pemda yang memadai, baik dari sisi budget maupun kebijakan yang pro AMPL. Faktor ini menjadi sangat penting, karena menunjukkan fungsi langsung sebagai fasilitator sekaligus regulator dalam pembangunan yang harus berkelanjutan dengan terus memberikan peluang kehidupan yang sama untuk generasi masa depan; (iii) SDM tersedia, yang terkait ketersediaan SDM AMPL yang cukup, sehingga jika keterampilan SDM ditingkatkan melalui berbagai perlakuan, pembangunan AMPL akan mudah terlaksana dengan baik; dan (iv) Kelembagaan Pokja AMPL, walaupun bersifat ad hoc, namun tupoksinya sebagai fasilitator dan koordinator pembangunan AMPL, akan sangat membantu dalam pencapaian sasaran pembangunan.

Dari aspek kelemahan (weakness), terdapat empat faktor utama yang diperkirakan memiliki pengaruh negatif yang kuat terhadap pencapaian sasaran. Faktor-faktor tersebut adalah; (i) SDM aparatur rendah, yang seringkali menyebabkan berbagai introduksi kebijakan menjadi terhambat, kemampuan teknis sulit berkembang dan koordinasi antar instansi menjadi sangat lemah; (ii) Anggaran Sektor AMPL yang Rendah, menyebabkan fungsi fasilitasi pembangunan Sektor AMPL tidak berjalan optimal; (iii) Belum memadainya perangkat peraturan yang mendukung pembangunan dan pengelolaan AMPL, menyebabkan pengambilan kebijakan dan berbagai program pembangunan terutama yang bersumber dana dari pemerintah tidak terarah pada AMPL; dan (iv) Rendahnya jumlah dan kinerja kelembagaan pengelola AMPL, menyebabkan aksesibilitas dan akselerasi pencapaian sasaran menjadi rendah.

Link